Halo bloggers, kali ini kembali mau menorehkan tinta kehidupan nih di blog saya, semoga tidak pernah bosan membaca celotehan saya di blog ini :).
Saat usia ku sudah menginjak 20tahun ini, entah kenapa aku merasakan banyak sekali ujian dariNya. Dalam otak aku berfikir mungkin Dia sayang kepadaku, sehingga begitu banyak "UTS" dan "UAS" yang Dia berikan dalam ujianNya di dalam hidupku. Khususnya dalam ujian kesabaraku menghadapi ayahku. Entah apa yang ada di benaknya, usahaku yang ingin mencoba tidak merepotkan dia dari sisi financial keseharianku dengan cara aku bekerja part time, di anggapnya membangkang. Di anggapnya meremehkannya, di anggapnya melawannya selaku orangtua. Entah dimana pikirannya, entah bagaimana lagi caranya aku menyampaikannya kepadanya bahwa aku disini bergelut dengan segala kegiatanku hanya ingin mencoba tidak merepotkannya. Semalam aku bertengkar hebat dengannya, sungguh hebat, aku dengannya cekcok mulut entah bagaimana lagi hanya untuk menyampaikan AKU INGIN MENCOBA TIDAK MENYUSAHKANMU. Dan pembicaraan semalam aku dengannya cukup membuat hati ini hancur sehancur hancurnya, baru ku tahu bahwa dia sama sekali bahwa dia tidak suka aku melakukan part time, sungguh ku kalap. Semua apa yang menjadi gundah gulana di hatiku ku sampaikan, namun yang ada beliau semakin meninggi dan menghempasku dengan kesimpulan di otakku bahwa aku ANAK SAMPAH haha :D. Ya sampah, karena aku tidak akan pernah bisa membuahkan sesuatu yang baik dan progresive di benaknya. Tapi di balik itu semua, ku mencoba mensyukuri, bahwa aku di "paksa" olehNya untuk menjadi sebuah anak yang berkualitas tinggi (insyaAllah). Dalam setiap perjalananku, aku selalu berkata dalam hati "pak, seberapa keras pun kata kata mu yang tidak pernah mendukungmu, aku akan buktiin bahwa aku bukan anak yang berandalan dan aku bisa sukses meraih mimpi dan anganku di dunia ini insyaAllah."
Sekemelut apapun di rumahku dengan ayahku, ketika aku keluar rumah, aku selalu merasa bagaikan burung yang bebas dari sangkar, sekalipun banyak gundah gulana di kepala ku mengenai kata kata ayahku, tapi aku selalu berusaha tersenyum ketika aku keluar rumah dan tidak ingin menunjukkan kepada sahabat dan temanku bahwa aku sedang bermasalah di rumah. Beruntungnya lagi aku memiliki sahabat dan teman yang tidak neko neko, bahkan jauh dari kata neko neko, aku banyak belajar hidup dari mereka, aku belajar banyak persahabatan dari mereka. Dan mereka pendukungku untuk terus berkembang, sekalipun aku di rumah hancurnya seperti apa melihat tingkah ayah kandungku sendiri begitu "menghardik" ku.
Air mata ini sudah di rasa kering dan hati ini sudah di rasa keluh untuk selalu merasakan deruan perkataan ayahku. Yang terpenting aku memiliki sahabat sahabat yang insyaAllah bisa membawa dampak baik untukku dan hidupku. Mereka salah satu alasanku untuk tetap tersenyum.
Selamat malam semua :).
No comments:
Post a Comment