September, 4 2013
Selamat malam DreamCatcher di luaran sana, apa kabar kalian semua?. Mudah mudahan senyum selalu terus terpampang di wajah kalian dengan berseri-seri serta tulus ikhlas dalam hati. Kali ini ingin meluangkan cerita lagi di sahabat saya yang satu ini, ya kegiatan menulis cerita ini di rasa menjadi sebuah kebiasaan yang sudah terpatri di otak, hati, dan tangan saya ketika saya rasa "oksigen" kehidupan dunia ini sudah mulai menipis dan menghimpit dada.
Kali ini saya mau bercerita tentang hidup saya yang di rasa penuh warna, ya ada kalanya warna terang nan indah begitu menyeruak di dalam setiap langkahku, namun tak jarang juga warna kelam juga menyeruak di jalan ini. Hmm....rasanya ingin melempar "kain kanvas" ini ketika aku begitu banyak mendapatkan tinta hitam gelam, bahkan kelam untuk "kain kanvas" ini. Ya!!, kali ini tinta itu ada lagi di hadapan saya, ingin saya hempas rasanya, ingin saya buang buang jauh tinta itu, namun di rasa sulit tangan ini untuk sekedar menganyunkan botol tinta itu untuk di hempaskan keluar ruangan hati ini. Yang tersisa hanya apa?, hanya ketololan saya, hanya kebodohan saya, hanya kegoblokan saya, yang terus memaksakan senyum di saat kondisi hati ini begitu gelam untuk mengeluarkan cahaya senyum. Ya saya orang yang sangat enggan untuk mendirect ke orang yang saya tuju untuk saya beritahu bahwa saya MUAK!!, saya sangat menjaga itu. Entah kenapa begitu tololnya saya mempunyai sifat ini.
"Tinta" gelam yang ku maksud ini adalah orang orang yang ku ANGGAP SAHABAT, ku ANGGAP KELUARGA ku, ku ANGGAP TEMPAT TERNYAMANKU, di rasa mereka semua berubah 180". Jauh semakin menjauh dari kata kata yang saya paparkan itu. Dan saya kembali mempertanyakan dalam benak dalam hati "sahabat itu ada ya?. Bentuknya gimana ya?. Di rasa tidak pernah ada sosok nyata untuk kata itu dalam hidup saya." Rasanya sakit melihat mereka, rasanya perih liat mereka di rasa tidak pernah menghargaiku, dan di rasa terlalu pedih ketika mereka terlalu hiruk pikuk dengan dunia mereka sendiri, tanpa dia sadari ada aku di sisi mereka. Ya itulah kebiasaan mereka yang ternyata dari dulu sudah bersarang dalam hubungan yang ku anggap sahabat ini. Saya terlalu naif untuk menyadari, bahwa mereka tidak menganggap ku sahabat layaknya aku menganggap mereka sahabat. Hanya satu yang ku sadari, aku hanya NEW COMER di tengah 4 sekawan ini yang ku anggap sahabat, jadi ku rasa memang tidak mungkin mereka menganggapku sahabat seperti halnya sahabat lainnya :). Mau seperti apapun mereka, aku akan tetap berusaha normal, karena menurutku mereka lah ya memang keluargaku, kakaku yang tidak pernah ku dapatkan kedua sosok itu di rumah ;). Aku disini selalu untuk mereka, walaupun ku sadari aku bagaikan manusia mengais matahari yang tak pernah tau ujungnya dimana.
"Once bestfriend, it will be a bestfriend forever" - anonymous
Waaah gak bilang-bilang punya blog yaaa
ReplyDelete