Kembali ku torehkan secarik tulisan di teman setia ku (re: my blog). Sejenak...eh tidak,bukan hanya sejenak kurasa,tiap momentum selalu di benak ku berteriak "kangen mama." Kata itu yang sampai saat ini usiaku 19 tahun menjelang 20 tahun Agustus ini yang selalu menggelayuti sanubariku. Entah mengapa,fase ketika aku kehilangan beliau saat aku beranjak masuk SMP kelas 1,itu masih terlintas jelas tanpa blur yang menggelayutinya. Aku selalu ingat moment bagaikan petir tentang kabar kecelakaan mama. Rasanya shock untuk anak se usia ku kala itu. Bagaimana tidak,kala itu aku berhasil masuk SMP unggulan di Jakarta yang dimana bisa aku banggakan ketika kedua kaka ku dulu ingin masuk sana,tapi terhalang karena sistem rayon yang membatasi pendaftaran sekolah berdasarkan wilayah domisili tempat tinggal. Begitu bangga aku bisa menerobos sejarah keluarga ku kala itu,hingga kini aku berkuliah di Universitas Paramadina dengan di biyai papaku yang seorang pensiunan Kepala Sekolag SD,dengan tanggungan biaya yang puluhan juta banyaknya. Bersyukur aku masih bisa bersekolah di kampus itu,bersyukur aku masih bisa berjalan kesana dengan fasilitas yang ada. Tapi tetap ada yang mengganjal hatiku,aku belum bisa meraih IPK 3 sampai detik ini aku semester 4,dikala semua temanku sudah merasakannya. Hanya satu yang ku gadangkan disini,yakni aku berkuliah dengan tekad dan niat baik,masalah nilaiku tak mencukupi 3,aku yakini dengan semangatku dan impianku yang kuat,aku bisa meraih MIMPI ku yang gemilang ketika aku terjun ke dunia karier nanti,aku yakini itu dan menancapkan sedalam-dalamnya di hatiku.
Kadang aku merasa iri ketika nanti pada saatnya wisuda,semua temanku di dampingi mama nya,dan hanya aku yang tidak,ketika nanti bekerja hanya mama dan papa yang jadi tujuan kariernya,hanya aku yang menempatkan itu dengan posisi papa seorang tanpa di dampingi mama. Aku rindu mama yang selalu berusaha keras mengupayakan apa yang aku ingin,aku rindu mama yang berjuang keras mati matian mengangkat ekonomi keluarga ku yang bisa sampai di fase menengah sampai saat ini,aku rindu sosok mama yang tegar,dan satu yang pasti aku rindu mama sampai aku menikah kelak nantinya. Entah rasanya hampa tidak ada beliau,merasa sepi,merasa sendu,merasa mood boosterku lenyap,dan merasa rindu di sebut "anak bontot kesayngan mama." Aku rindu di manja mama.
Tapi dibalik itu,aku harus terus BERLARI mengejar mimpi gemilangku,membuat mamaku tersenyum di surga sana,dan merealisasikan impianku untuk membangun rumah mewah,punya mobil mewah,dan membuktikan bahwa aku penerus mama dalam hal membangkitkan status ekonomi keluarga. I MISS YOU MOM.
sekalipun engkau jauh disana
aku yakini engkau terus memantauku disini
dan ku yakini juga
bahwa kamu tidak akan berhenti berdoa untukku
I Love You Mom

No comments:
Post a Comment