Friday, July 19, 2013

Tersenyum Dan Menangis

Aku belajar dari sosok mamaku, beliau selalu berkata "tersenyumlah selagi kamu bisa tersenyum, bersedihlah selagi kamu tidak bisa meredamnya lagi. Tapi jgn bermurung atau menggerutu hanya jika kamu tidak kuat berdiri dari jatuhmu." Dulu serasa berat kata itu untuk ku cerna, sekarang aku tau, dengan tersenyum maka dunia tidak akan tau bahwa sesungguhnya kamu sedang di rundung rintihan yang tak henti menjerit. Maka kamu akan selalu bisa membuat sekelilingmu tertawa sekalipun kamu sesungguhnya ingin sekali membagi bebanmu.

Dengan menangis, maka dunia akan tau bahwa sesungguhnya kamu memang manusia biasa yang masih memiliki perasaan tersakiti. Namun jika kamu bermurung, tidak ada hasil yang kamu dapat. Kamu hanya akan mendapatkan sebuah fatamorgana kehidupan tanpa ujung.

Wednesday, July 10, 2013

Sukses Tidak Selalu Datang Dari Emas

Ya...apa kabar temanku (read: blog). Sudah terlampau aku tak menorehkan kisah ku di dirimu, kali ini aku ingin bercerita tentang sedihku namun di dalamnya ku sematkan rasa syukurku kepada Allah SWT.

Hari ini, ya sore ini adalah buka puasa pertama ku dengan keluarga. Seperti puasa tahun kemarin, sebelum berbuka suasana rumah di warnai percekcokan kaka iparku dengan papaku. Sungguh pemandangan yang tidak mengenakan ini selalu mengihiasi hidupku selama di rumah. Mungkin alasan ini juga yang membuatku sungguh tidak betah berlama-lama bersama keluarga, penat rasanya. Aku rasa ketika canda tawa yang di sebarkan dalam beberapa waktu hanya sekedar kamuflase sementara, namun pada akhirnya semua keharmonisan itu akan kandas di gerus waktu. Sekejap aku langsung berfikir dan istigfar bukan main kepada Allah melihat hal ini. Sungguh ku merasa miris, aku merasakan kasih seorang mama hanya seumur 11 tahun. Selebihnya 8 tahun aku hidup selalu dalam rumah yang berwarnakan cekcok tak henti, aku iri melihat temanku yang memiliki keluarga yang tidak sepertiku, aku iri melihat teman ku yang bisa melancong ke Jakarta dengan segudang doa, harapan dan dukungan di tangan mereka dalam mengejar mimpi. Sedangkan aku?, aku merasa doa bermunculan bukan dari keluarga, tapi dari kalangan sahabatku, harapan dan dukungan bukan datangnya dari keluargaku, tapi datangnya lagi lagi dari sahabatku yang mencintaiku, bahkan aku sendiri adalah orang yang tidak ingin berlama lama di rumah, sedangkan temanku selalu ingin pulang ke rumah ketika liburan. Aku menyibukkan diriku di luar rumah dengan segudang kegiatan yang aku rangkai sedemikian rupa sehingga ketika aku pulang, aku akan mendapati keluargaku sudah tidur nyenyak. Aku rapuh sesungguhnya dan aku rasanya ingin berteriak melihat semua ini tiada ujungnya, tapi di lain sisi aku bersyukur kepada Allah SWT karena aku terbentuk menjadi anak yang kekurangan kasih sayang, anak yang tidak bisa tersenyum di rumah, namun aku menjadi anak yang mampu mengukir prestasi dan mengejar sebagian kecil mimpiku di luar rumah. Aku hanya meminta kepada Allah, jika memang jalan ini Ia ciptakan untuk menguatkan diriku, maka aku memohon kepadaNya untuk selalu menguatkan ku hingga akhirnya seluruh mimpiku terjawan sudah. Namun jika Ia menciptakan jalan ini untuk melihat skor kesabaranku, maka aku meminta maka hadapkanlah aku langsung ke level Ujian Akhir Nya, sehingga aku bisa tenang meniti masa depan dan mimpiku dengan sesuai yang apa ku inginkan.

Itu saja yang ingin aku bagi, entah hanya kepada lagu dan tulisannya aku bisa berbagi. Terimakasih ya Allah atas segalanya hingga saat ini.

Friday, June 14, 2013

Bukan Berarti

Senyumku bukan berarti, tawa bahagiaku
Murungku bukan berarti, sedih senduku
Candaku bukan berarti, riangnya hatiku
Tangisku bukan berarti, hancurku

Namun

Haruku adalah sikap penghargaan atas pencapaianku yang kadang orang lain mengacuhkannya,
Tetes air mataku adalah sikap penyampaian letihku kepada dunia di saat orang lain cenderung tidak mengerti apa yang ku maksud ataupun yang ku mau,
Kata-kata bijak yang terlontar dari bibirku adalah simbolisasi penguatan diriku di saat aku tau sesungguhnya semua elemen di sekitarku hanya kamuflase sesaat yang begitu menyayat hati ini
Kerelaanku adalah simbolisasiku mempasrahkan sesuatu yang sesungguhnya itu begitu menghancurkan hatiku, ketika ku tau ribuan kilo kaki ini menempuh jalan menemaniku dan TIDAK ADA YANG MENGINDAHKANNYA.

Segala kamuflase yang ku lakukan BUKAN BERARTI aku bermuka dua, hanya saja aku tidak ingin kalian melihat kerapuhanku dan aku tidak ingin kalian mengasihaniku karena ku minta.

Thursday, June 13, 2013

Rasanya Ingin Menangis

Entah apa yang menggelayuti sanubari ini, entah sedih apa yang menyambangi hati ini, entah haru apa yang tak kunjung henti berkabung di hati ini. Yang pasti, hati ini rasanya ingin menangis. Kaki letih berjalan, otak letih bekerja, dan hati letih merelakan apa yang seharusnya menurutku tak pantas aku relakan. Hati ini lelah memendam. Memendam yang seharusnya orang tau karena aku manusia biasa. Intinya aku ingin menangis

Monday, June 10, 2013

Senyumku Sedihku

Alhamdulillah konser Paramadina Choir sudah berjalan dengan baik, senang rasanya, haru juga menyeruat di dalam dada. Perjuanganku bersama teman partnershipku mencari sponsor sudah selesai akhirnya, di tutup dengan rasa bangga dan senang pada kemarin malam. Namun ada satu rasa sedih menggelayuti di benak ku, hal sepele sih memang, tapi bagiku itu simbolisasi sebenarnya yang bagiku satu alat bukti juga perjuanganku. Waktu 6 bulan berlatihku tidak terbayar dengan tidak adanya wajahku di buku program yang di bagikan ke seluruh penonton, semua respon menyeruak, bahkan tak sedikit ada yang berfikir itu unsur ketidak sengajaan. Namun di balik kesedihanku, aku tidak ingin menjadi sosok yang gila akan attention, aku hanya berfikir memang itu hanya kesalahan biasa yang dilakukan oleh manusia, tidak perlu di besarkan cukup maklumi saja. Yang terpenting aku bernyanyi dari hati, tampil yang terbaik, tugasku selaku sponsorship sudah di ambang pintu finish dan aku senang aku bisa sampai tahap ini.

Friday, May 31, 2013

Sudah H-17 saya dan Paramadina Choir berangkat ke Vietnam untuk mengahrumkan nama Universitas, nama Negara, nama team, nama ku pribadi, sekaligus merealisasikan mimpi ku, mimpi kita bersama. Sesak rasanya menghitung hari yang semakin dekat, bukan sesak kekesalan, namun sesak keharuan yang entah menjadi apa di dalam hati ini. Setiap habis berdoa setelah latihan dengan team, dada ini begitu dingin di lewati angin bayang-bayang 5 hari bersama team, rasanya kalau tidak ada orang entah berapa air mata yang tak sengaja keluar dari kelopak mata ini. Tak kusangka, 2 tahun aku di Paramadina Choir, sampai di titik ini juga, yaitu titik awal dari tujuanku masuk Paduan Suara, yakni saya berangan bisa bersama dengan team ke luar negeri untuk mengikuti kompetisi, begitu Baik Allah SWT atas apa yang di inginkan umatNya.

Setiap ruas jalan yang ku lewati, memiliki kenangan tersendiri di benak ini, kenangan dimana malam-malam kami haru mengamen mengais rupiah-rupiah penopang keberangkatan kami, ruas jalan yang selalu menjadi bahan gumaman ku ketika kaki ku ini begitu letih untuk mengikuti iringan derap kaki teman-teman, ruas jalan yang selalu ku duduki ketika kami semua letih bernyanyi, dan ruas jalan yang selalu kami keluarkan kata-kata andalan "selamat malam bapak-bapak, kakak-kakak, teman-teman, kami dari Paramadina Choir..." untuk sekedar membuat mereka menoleh dan memperhatikan lantunan nada yang kami lontarkan dari dalam hati. Sungguh ku ingin meneteskan air mata, tak kusangka aku dan team sudah sejauh ini melangkah, sudah sebesar ini angan-angan yang akan kita realisasikan. Sungguh kesabaran, dan ketekunan dalam menjalani skenarioNya itu teramat ampuh dalam memegang mimpi menjadi nyata.

Terimakasih ya Allah, terimakasih teman-teman, begitu banyak warna yang kalian torehkan dalam kehidupanku ini yang awalnya ku sangka hidupku berada dalam level stagnancy yang akut, ternyata aku menemukan kalian, aku menemukan UKM yang membuatku happy (walaupun tak jarang UKM ini juga buat pening dan gondok hahaha), ada masanya nanti ketika umurku sudah jauh bertambah, aku tidak dapat bertemu lagi dengan kalian karena rutinitas yang begitu deras membunuh waktuku, moment ini lah dan partitur yang begitu tebal itulah yang akan selalu ada di sisiku dan terus membuka setiap inci kenangan perjalanan kita bersama-sama, ya ini tolak ukur pertama kita. Sukses untuk kita semua Paramadina Choir.

Monday, May 27, 2013

Siapa Itu Sahabat, Sahabat Itu Apa, Apa Itu Sahabat?

Sampai detik ini, masih mencari arti yang hakiki dari kata SAHABAT. Ya kata itu yang masih belum ku pahami dari berbagai macam kata-kata di dunia dan di kehidupanku. Ketika aku merasa sudah menemukan sahabat, justru orang yang ku anggap sahabat itu tidak menganggapku demikian, aku hanya di anggap sebagai teman saja. Di saat aku merasa teman dekat ku adalah mereka, justru mereka yang ada ketika hati ini mulai retak sana sini oleh kerasnya palu kehidupan. Kini orang yang aku anggap sahabat, terkesan seperti menjauh dan tidak menggambarkan sahabat seperti layaknya sahabat. Aku bingung, aku sedih, aku kesal, aku terasingkan. Bukan karena output dari tingkahnya (baca : menjauhi saya), tapi saya bingung, sedih, kesal dan terasingkan karena saya tiap hari harus bertemu dengan dia di lingkup yang sama pula, sedangkan saya sendiri merasa dia tidak menganggap diri saya ini ada atau sahabatnya. Sepertinya perjalanan saya mencari arti kata SAHABAT akan berujung seperti saya di SMA, hanya bersahabat dengan buku, komputer, tulisan, dan tentunya gadget yang setiap hari tidak pernah beranjak dari sisi saya ketika saya menangis sekali pun.

Kadang dalam benak ingin berteriak "kalian sungguh enak, ketika kalian pulang ke rumah kelak, kalian akan di rindukan, aku?. Aku pulang tidak ada yang mengapresiasiku sama sekali. Bertanya 'Kenapa?' saja kesannya enggan. Aku terasingkan di sana sini, tidak dengan kalian!!." Tapi aku sadar, untuk apa aku berteriak, untuk apa aku membagi, aku tau bahwa setiap insan di Dunia ini sebagian besar hanya menjadi Good Listener saja, jadi daripada saya hanya menadapat julukan "anak manja" lebih baik biar saya, hati saya, Allah SWT, dan "teman-teman" setia saya yang mengetahui kapan saya tertawa lepas, kapan saya tersenyum palsu untuk menghindari kerapuhanku, dan kapan aku benar-benar menangis.

hidup ini akan selalu sendiri
sekalipun ribuan sahabat mengelilingimu
sejatinya kamu adalah
INSAN YANG SENDIRI KELAK