Sunday, April 19, 2015

Lama Tak Berjumpa. Apa Kabarnya?

Halo, sudah lama tak menggoreskan cerita-cerita kecil dalam hidupku dengan medium ini. Kali ini ingin sedikit berbagi rasa rindu, ya rindu kepada teman-teman kuliahku. Teman satu perminatanku (Brand Management) dan teman-teman dekatku. Tahun ini adalah tahun terakhir kami di kampus kecil kami ini, yakni Universitas Paramadina. Kampus kecil di tengah-tengah jalan Gatot Subroto, kampus kecil di tengah-tengah gedung tinggi pencakar langit (sebut saja seperti K-Link Tower, RS Medistra, SMESCO, & banyak lagi gedung pencakar langit lainnya). Kami sekumpulan mahasiswa yang berawal masuk di tahun 2011 sebagai alumni SMA masing-masing yang kemudian bertemu melalui acara Graha Mahardika Paramadina (GMP) -- ya bisa dikatakan sebagai masa orientasi -- dan bertemu dengan kawan-kawan dari seluruh penjuru Indonesia. Baik sama-sama anak Jakarta, bahkan sampai anak dari Makassar, Aceh, Bandung, Majalengka, dll. Kami bertemu pertama kali dengan sejuta angan dan mimpi di benak kami masing-masing. Bertemu, berkenalan, bersenda gurau, menjadi teman satu perminatan, hingga menjadi teman akrab dan sahabat karib.

Perjalanan masa studi kami terasa cepat (bagi saya). Dulu, rasanya masih jadi anak SMA yang datang ke kampus ini diantar dengan sanak keluarga, menerjang macetnya arus lalu lintas Jakarta hanya demi kelas di pagi hari buta (kenapa pagi hari buta? Karena kelas terpagi di Paramadina tidak seperti kampus lainnya, sebut saja Binus, UNTAR, dll yang mulai perkuliahan jam 8 pagi. Kita? Jam 7.00 pagi sudah harus bertatap muka dengan rangkaian presentasi dosen). Semester 4-6 rasanya Semester tersibuk bagi kami anak-anak Brand Management. Banyak urutan antri tugas-tugas kuliah, baik dari individu, kelompok, menjawab pertanyaan, membuat esai, hingga membuat rancangan kampanye suatu merek. Ya itulah sensasi dari perminatan kami, "menusuk" diawal, "membinggungkan" diakhir. Rasanya dulu kami seringkali menghabiskan waktu di kost-an teman untuk mengerjakan tugas, menanti kelas yang jedanya cukup jauh, & hingga pulang ralut hanya untuk berdiskusi menyelesaikan tugas. Masa itu juga tak jarang jadi masa yang selalu menjadi momen "adu otak" antara kami (khususnya tugas kelompok) & saya termasuk orang yang selalu bilang "oke manutlah sama kalian" ketika dua teman saya yang cerdas dan perfectionist beradu argumen menyelesaikan tugas -- nama mereka Nina dan Inge :D -- dan siap dipresentasikan keesokan harinya. Ya....saya rindu masa-masa payah kami saat itu. Rindu berargumen dengan mereka mencapai hasil yang terbaik untuk kami (karena bagi kami, kadang terbaik dalam kelas tidak menjamin terbaik untuk kami). Saya rindu semua kaleidoskop itu.

Sekarang, kami sudah menjelma menjadi calon-calon Sarjana Ilmu Komunikasi (S.Ik) dengan masing-masing objek, pembahasan, & metode skripsi kami. Bahkan sahabat-sahabat karib saya -- sebut saja Muhammad Fadly, Yudhita Anugerah Putri -- sudah selesai menuntaskan masa studi mereka, dan tulisan ".S.Ik" sebentar lagi akan bersanding di belakang nama lengkap mereka. Mereka adalah dua orang yang saya kenal secara tak sengaja. Mulai dari Fadly, saya gak tau keberadaan dia kalau tidak "cinta" mati sama Paramadina Choir (sampai detik ini), sempat satu kelas juga dan "berkompetisi" kelompok juga. Odhit (panggilan untuk Yudhita) saya bertemu dengan dia di Facebook awalnya, lalu ketemu di GMP & malu-malu bertegur sapa karena.....takut salah orang (tengsin parah kalo sampe salah orang). Tapi ya itulah Mahasiswa, semua akan ada fasenya untuk menyelesaikan tanggung jawabnya masing-masing dan akan begitu banyak kenanagan yang lucu untuk diingat nantinya.

Apa kabar kalian semua sahabat terkasih ku? Baik yang sudah (mau) resmi jadi S.Ik dan yang sedang berjuang mendapatkan gelar S.Ik (seperti saya). Kabar baik kah kalian semua? Berjuanglah tanpa henti kawan-kawanku. Aku senang berjumpa kalian, berproses dengan kalian, sayang kepada kalian, & yang terpenting mengenal kalian adalah suatu cerita yang unik. Teruslah mengukir angan kalian dengan orisinalitas kalian masing-masing, pantang menyerah, tetaplah tersenyum apapun kondisinya, dan yang paling aku harapkan, semoga yang rindu, dan sayang dengan segala warna yang tercipta ini bukan ganya saya seorang, melainkan kalian juga merasakan apa yang saya rasakan. Teruslah semangat orang-orang terkasihku. Sampai jumpa di masa depan dengan cerita kebanggaan masing-masing dan mari jaga ikatan kita ini :D.

Monday, August 11, 2014

Tak Lagi Muda

Kini, usiaku akan beranjak  21 tahuh. 21 Tahun aku hidup menjalani lakon yang diberikan Allah SWT kepadaku, semua nikmat, semua sedih selalu ku syukuri dalam hati, selalu ku balas dengan senyuman. Walau rasanya bibir ini lelah terus tersenyum ketika begitu berat beban dalam hati, walau rasanya raga ini remuk terkikis waktu yang seakan ingin membunuhku perlahan. Kini, aku dan kedua kaka ku benar-benar menjadi pejuang sejati di dalam rumah mungil dimana kami bertiga tumbuh dewasa sampai detik ini. Mulai dari dulu masih ada suara canda tawa Mama di rumah sepulang kantor dan di hari libur, hingga suara itu sudah tak lagi terdengar tertutup oleh angin waktu. Kini, kami harus kembali menghadapi kenyataan, bahwa nenek kami tercinta sudah tak lagi muda, sudah tak lagi sehat, sudah tak lagi dapat berjalan, sudah tak lagi dapat menemani kami walau hanya sekedar duduk bersama menonton tv. Beliau, sudah tak sanggup mengangkat badannya dari tempat tidur, harus kami bantu mengangkatnya, mengeluarkannya dari kamar tidur menuju ruang tv belakang, kami pula yang harus menggantikannya popok ketika beliau buang air, kami yang membilasnya di atas kursi roda, dan memang beliau tak lagi muda seperti sedia kala. Hanya tinggal kami bertiga yang dengan setia memastikan dia selalu dalam keadaan senang. Walau kami hanya seorang cucu, yang kasih sayang kami kepadanya tak akan pernah cukup membalas budi nya sedari kami bertiga kecil-kecil dulu.

Melihat badannya yang semakin mengurus, ketidak berdayaan raga nya untuk sekedar berjalan atau menggerakan kaki, menyadarkan kami bahwa begitu cepat waktu membunuh momentum indah dulu. Masih lekat di benakku dulu, ketika aku merengek di tinggal Mama pergi ke kantor, Nenek lah yang mengajakku keluar membelikan side dishes Ice Cream memastikanku berhenti merengek, Nenek lah yang selalu mau menenangkanku ketika Bapak ku begitu kasar membentak karena aku malas belajar ataupun lamban menerima metode mengajarnya. Hanya Nenek, yang selalu memastikan aku dan kaka kaka ku untuk selalu dalam kondisi 'makmur' ketika Mama tak ada di sisi karena dinas. Kini, sosok itu sudah tak bisa lagi melakukan semuanya kepada kami, Nenek hanya bisa menanyakan kami sudah makan atau belum dari atas tempat tidurnya. Nenek hanya bisa mendoakan kami dari atas tempat tidurnya ketika kami pamit untuk beraktifitas di luar.

Sekarang saat nya kami bertiga menjaga Nenek di usianya yang semakin senja terkikis usia, hanya mengharap berkah dari Nya, kami tak berharap hal yang begitu kompleks atas jerih payah mengurus Nenek. Kami hanya ingin Nenek terus ada di rumah mungil kami menghabiskan waktu. Khususnya aku, ingin sekali Oktober 2015, Nenek masih ada di rumah, melihatku membawa pulang baju toga kebanggaanku dan ijazahku ke hadapannya. Beliau selalu bertanya "kamu kapan lulus Dek?", seolah isyarat bagiku bahwa Ia menantikanku untuk wisuda. Kami ikhlas ya Allah mengurus Nenek, kami ikhlas meluangkan waktu untuknya, membuatkan minum untuknya, kami Ikhlas Lillahi Ta'ala. Kami tak meminta Om kandung kami (Notabene anak laki-laki satu-satunya dari Nenek) untuk mengurus Nenek. Sungguh aku pribadi bahkan tak rela Om ku mengurus Nenek ku, aku sungguh tak rela sisa hidupnya di habiskan oleh anaknya yang membenci Nenek ku begitu dalam. Entah dimana letak logika dan hati Om ku, entah ku tak mengerti. Kami akan merawat dan menjaga Nenek semaksimal kami, karena kami yakin Engkau sudah menyuratkanny begitu.

Aku hanya berharap dan berdoa, jika Nenek kami Engkau takdirkan sembuh, maka angkatlah penyakitnya. Namun, jika Engkau sudah ingin memanggilnya sebelum aku memamerkan toga ku di hadapan Nenek, aku ikhlas. Sejauh itu yang terbaik beliau. Aku hanya ingin yang terbaik untuk beliau dan hamba memohon mudahkanlah jalan Nenekku. Sekalipun Nenek harus sudah tiada sebelum aku wisuda, hamba yakin Mama dan Nenek akan bangga melihat pencapaian hidupku. Karena insyaAllah hidupku tidak ku bentuk untuk memalukan mereka.

Jaga lah Nenek ku dan keluarga kecilku, terimakasih banyak ya Allah Engkau begitu banyak memberikan aku warna hidup dan menguatkan aku sampai detik ini.

Saturday, January 25, 2014

Dream Just Like A Purpose

Halo blog tercinta, kembali saya ingin menorehkan cerita sederhana dalam hidup saya ke dalam blog ini. Kali ini saya ingin menyampaikan pandangan saya tentang "Dream is Just Like A Purpose". Ya banyak yang merangkai mimpi mereka begitu mulai, besar (dalam artian berdampak massive kepada Dunia), bahkan ada yang merangkai dengan begitu mulia. Namun bagi saya, mimpi yang ada dalam hidup saya cukup memiliki 3 komponen yaitu, happiness, smile, & independent. Kenapa hanya tiga hal itu?, dan mungkin mimpi saya akan terlihat tidak se-gemilang mimpi orang kebanyakan. Saya menerapkan itu karena pertimbangan oleh aspek internal dan internal. Jika ketika pertama saya membuat kata "mimpi" dalam hidup,maka saya harus memulai nya dengan prinsip happiness, karena ketika saya menjalaninya dengan kesenangan maka output yang dikeluarkan pun akan tulus dan saya akan selalu optimis menjalani itu sampai hasil final. Lalu ketika saya sudah berhasil memulai first step, maka saya pun memulai prinsip smile. Kenapa smile?, karena ketika saya sudah tulus menjalani langkah mimpi saya & saya berhasil membuat orang terdekat (minimal sahabat & keluarga) merasa senang bahkan tertular semangat positif saya, maka doa dan pengharapan tulus mereka pun akan terlontar layaknya dzikir kepadaNya. Tiada henti, dan selalu menyentuh relung hati saya ketika mungkin saja ada titik nadir dalam proses mengejar mimpi yang saya rasakan. Dan ketika dua prinsip itu sudah 'berhasil' saya jalankan, maka yang terakhir yang perlu saya terapkan adalah independent. Independent saya pilih karena saya menjadikan mimpi saya bukan sebagai ajang pamer, ajang penunjuk eksistensi 'kekuatan' saya yang secara nyata sesungguhnya tak seberapa, namun lebih kepada tujuan mimpi saya adalah menjadikan diri ini lebih mandiri menjalani nada hidup & menghargai setiap proses mencari yang diberikan Tuhan & alam kepada saya. Sehingga ketika mimpi saya pun terwujud, saya lebih senang menjadikannya bukan sebagai achievement yang harus di pampang, namun lebih menitik beratkan kepada sharing session kepada sesama. Dengan harapan, bahwa orang sekitar juga setidaknya mau mencoba menembus batas mereka yang selama ini mencengkram mereka. Dan terakhir, saya menganggap tujuan/target adalah sebagian dari kata luas dari 'mimpi'. Jadi apapun tujuan/target hidup yang ada dalam diri saya, itulah mimpi-mimpi kecil saya. Dan pengalaman saya kemarin ke Vietnam bersama Choir, berhasil magang (walau sebentar) di tempat Strategic Branding Consultant MakkiMakki merupakan mimpi-mimpi saya yang saya yakin bisa menentukan my path of life in the future. Karena semuanya itu saya jalani sesuai dengan minat dan passion saya di dalamnya.

Well, itu saja yang bisa saya share. Semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat dan kalian bisa mengerti my point of view. Selamat menjalani hidupmu teman.

Monday, November 11, 2013

"Mamah Aku Kangen"

Tak jarang beberapa hari belakangan, aku menemukan beberapa temanku memposting di akun sosial media mereka dengan kata kata "mamah aku kangen, bolehkah ku pulang sejenak?," "mamah aku kangen, mau pulang ke rumah," dan sebagainya. Iri rasanya bisa melihat mereka memposting itu dan memang nyatanya masih ada sosok fisik akan tujuan kata kata mereka itu. Rasanya aku ingin juga memposting "mamah aku kangen, bisakah kita bertemu, canda gurau, dan mencurahkan segala penatku?." Tapi aku berfikir bahwa, apakah halal atau pengecualian dari Allah kah aku bisa ke haribaanNya untuk bertemu mama ku dan meluapkan segala penatku dan ingin merasakan semangatnya?, kurasa tak mungkin hal itu terjadi. Memang terlihat lembek dan ringkih untuk seorang anak laki-laki seperti ku selalu merindu sosok mama hampir setiap hari. Namun ku tak peduli, aku sungguh rindu mama ku. Sungguh aku merindunya. Aku ingin rasanya bisa memposting seperti itu dengan destinasi yang cocok dalam menggambarkan postinganku itu. Tapi apalah daya, beliau sudah lebih dulu pergi tanpa bersamaku. Mungkin beberapa orang akan mensuggest ku untuk "kirimlah doa untuk mama mu yoko," aku tau aku jarang shalat menghadapnya, tapi aku selalu berdoa sebelum aku tidur dan aku selalu meminta sampaikanlah keluh kesahku akan menjalani usia remaja ku disini kepadanya. Bagiku untaian doa, melihatnya dari sebuah foto keluarga yg terpampang besar di ruang tamu, amatlah kurang mengisi relung hatiku yang sungguh amat merindukannya. Sungguh aku ingin bertemu dengannya, bertegur sapa, bercerita perjalanan hidup, bercerita tentang mimpiku, bercerita apa yang kucapai, dan bercerita apapun tentang dunia ini. Moment itu yang selalu ku rindukan hingga saat ini. Sampai detik ini aku menulis di blog kesayanganku soal mama, tak lain adalah sebagai media pengganti berkeluh kesah dan rindu kepadanya. Dengan sebuah keyakinan, bahwa apapun yang ku torehkan disini, mama selalu memperhatikanku. I miss you mom :")

Sunday, September 22, 2013

Senyumku Pertahananku

Halo bloggers, kali ini kembali mau menorehkan tinta kehidupan nih di blog saya, semoga tidak pernah bosan membaca celotehan saya di blog ini :).

Saat usia ku sudah menginjak 20tahun ini, entah kenapa aku merasakan banyak sekali ujian dariNya. Dalam otak aku berfikir mungkin Dia sayang kepadaku, sehingga begitu banyak "UTS" dan "UAS" yang Dia berikan dalam ujianNya di dalam hidupku. Khususnya dalam ujian kesabaraku menghadapi ayahku. Entah apa yang ada di benaknya, usahaku yang ingin mencoba tidak merepotkan dia dari sisi financial keseharianku dengan cara aku bekerja part time, di anggapnya membangkang. Di anggapnya meremehkannya, di anggapnya melawannya selaku orangtua. Entah dimana pikirannya, entah bagaimana lagi caranya aku menyampaikannya kepadanya bahwa aku disini bergelut dengan segala kegiatanku hanya ingin mencoba tidak merepotkannya. Semalam aku bertengkar hebat dengannya, sungguh hebat, aku dengannya cekcok mulut entah bagaimana lagi hanya untuk menyampaikan AKU INGIN MENCOBA TIDAK MENYUSAHKANMU. Dan pembicaraan semalam aku dengannya cukup membuat hati ini hancur sehancur hancurnya, baru ku tahu bahwa dia sama sekali bahwa dia tidak suka aku melakukan part time, sungguh ku kalap. Semua apa yang menjadi gundah gulana di hatiku ku sampaikan, namun yang ada beliau semakin meninggi dan menghempasku dengan kesimpulan di otakku bahwa aku ANAK SAMPAH haha :D. Ya sampah, karena aku tidak akan pernah bisa membuahkan sesuatu yang baik dan progresive di benaknya. Tapi di balik itu semua, ku mencoba mensyukuri, bahwa aku di "paksa" olehNya untuk menjadi sebuah anak yang berkualitas tinggi (insyaAllah). Dalam setiap perjalananku, aku selalu berkata dalam hati "pak, seberapa keras pun kata kata mu yang tidak pernah mendukungmu, aku akan buktiin bahwa aku bukan anak yang berandalan dan aku bisa sukses meraih mimpi dan anganku di dunia ini insyaAllah."

Sekemelut apapun di rumahku dengan ayahku, ketika aku keluar rumah, aku selalu merasa bagaikan burung yang bebas dari sangkar, sekalipun banyak gundah gulana di kepala ku mengenai kata kata ayahku, tapi aku selalu berusaha tersenyum ketika aku keluar rumah dan tidak ingin menunjukkan kepada sahabat dan temanku bahwa aku sedang bermasalah di rumah. Beruntungnya lagi aku memiliki sahabat dan teman yang tidak neko neko, bahkan jauh dari kata neko neko, aku banyak belajar hidup dari mereka, aku belajar banyak persahabatan dari mereka. Dan mereka pendukungku untuk terus berkembang, sekalipun aku di rumah hancurnya seperti apa melihat tingkah ayah kandungku sendiri begitu "menghardik" ku.

Air mata ini sudah di rasa kering dan hati ini sudah di rasa keluh untuk selalu merasakan deruan perkataan ayahku. Yang terpenting aku memiliki sahabat sahabat yang insyaAllah bisa membawa dampak baik untukku dan hidupku. Mereka salah satu alasanku untuk tetap tersenyum.

Selamat malam semua :).

https://si0.twimg.com/profile_images/378800000488720230/eb654f9f9212f9f8e91a985b40bf6346.jpeg

Saturday, September 14, 2013

Change The Lyric ('Bout Bestfriend Again)

Every part in my heart I'm giving out
Every song on my lips I'm singing out
Any fear in my soul I'm letting go
And anyone who asks I'll let them know

They're the one, They're the one, I say it loud
They're the one, They're the one, I say it proud
Ring a bell, ring a bell for the whole crowd
Ring a bell, ring a bell

I'm telling the world that I've found a bestfriends
The one I can live for, the one who deserves

Every part in my heart I'm giving out
Every song on my lips I'm singing out
Any fear in my soul I'm letting go
And anyone who asks I'ma let 'em know

They're the one, they're the one, I say it loud
They're the one, they're the one, I say it proud
Ring a bell, ring a bell for the whole crowd
Ring a bell, ring a bell

I'm telling the world that I've found a bestfriends
The one I can live for, the one who deserves
To give all the light, a reason to fly
The one I can live for, a reason for life

Oh ay oh, oh ay oh oh, yeah yeah
Oh ay oh, oh ay oh oh, yeah yeah
Oh ay oh, oh ay oh oh, yeah yeah
Oh ay oh, oh ay oh

I'm telling the world that I've found a bestfriends
The one I can live for, the one who deserves
To give all the light, a reason to fly
The one I can live for, a reason for life

Oh ay oh, oh ay oh oh, yeah yeah
Oh ay oh, oh ay oh oh, yeah yeah
Oh ay oh, oh ay oh oh, yeah yeah
Oh ay oh, oh ay oh oh, yeah yeah

-Taio Cruz - Tell The World-


I want to say that to all of em, but sometimes i feel they're not thinking about me like their bestfriend too. Ya...the end of the time, i just hope, that thing just my decoy in my mind.

Goodnight ;)

Wednesday, September 11, 2013

Definisi Sahabat Di Benak Saya

Halo bloggers, ketemu lagi di 'diary' saya yang baru. Kali ini saya ingin menuliskan tentang apa sih itu definisi sahabat. Gak lama-lama, berikut saya akan memaparkan definisi sahabat dari beberapa orang yang saya survey, yakni ;

1. "sahabat itu ya ketika ada saat lo dalamn situasi apapun, gak ada tembok, gak ada batas, dan feedback yang lo dapetin setimpal dengan apa yang lo lakuin ke mereka (kebaikan). Tapi satu syarat, feedback baik tersebut bakal datang ke hidup lo, kalo lo tulus memberikan kebaikan itu kepada mereka." Definisi pertama ini, saya dapatkan dari seseorang yang merasa sebenarnya sahabat itu gak ada, karena menurut pengalaman dia ya yang namanya sahabat itu gak ada, semua memiliki kepentingan ketika mereka mendekatkan diri ke kita.

2. "sahabat itu menurut gw, ya ketika lo susah dia ada, ketika lo seneng dia ada, ketika lo bener ya dia juga ada, ketika lo salah, dia gak akan membenarkan lo hanya karena dia sahabat lo. Tapi sejujurnya, gw itu individualis, gw sampe sekarang belum nemuin sahabat, ya karena menurut gw, sahabat gw itu calon istri gw kelak, dan keluarga gw. Bukan orang di luar keturunan gw. Menurut gw, lo terlampau cepat melabelisasi orang-orang di sekitar lo, sedangkan yang gw tau, penglabelan itu datangnya dari ekspektasi, dan ekspektasi akhirnya ke dua hal, antara emang sesuai ekspektasi lo atau jauh drastis dari ekspaktasi, nah ketika jauh dari ekspektasi, siapa yang sakit?. Ya diri lo sendiri, kalo mereka gak sesuai dengan apa yang udah lo lakukan untuk mereka, ya mending lo anggap mereka temen baik aja. Karena gak selamanya lo bisa diam." Ini saya dapatkan dari salah orang yang saya kenal dari semester 1 di kampus Paramadina. Dia bassicnya indivualis (dalam memandang definisi sahabat), tapi dia memiliki banyak teman deket di sisinya.

3. "sahabat itu menurutku gak ada ka, kenapa gak ada?. Karena menurutku, sahabat kan forever ya, ya sedangkan di dunia ini gak ada yang selamanya bisa abadi. Kenapa aku bilang gak ada yang selamanya?, karena mereka gak selamanya ada di sisi kita di segala moment ka, kan mereka punya kesibukan sendiri." Ini saya dapatkan dari junior saya yang juga berfikir bahwa sahabat tidak ada. Yang ada hanya temen baik, that's enough.

4. "sahabat itu simple, dia baik sama lo karena emang mereka tulus temenan atau sahabatan sama lo." Kalau ini jawaban paling singkat yang pernah saya dapat tentang observasi ini, melalui pertanyaan panjang lebar. Ya dari senior saya tepatnya.

Ya begitulah opini-opini orang yang saya observasi, mereka punya pandangan tersendiri mengenai arti kata sahabat itu. Ada yang masuk akal menurut saya adapun yang radikalnya gak ketulungan. Ya begitulah namanya hidup, semua orang punya opini akan fenomena hidup itu sendiri. Tapi akibat observasi kecil-kecilan yang saya lakuin ini, ada satu konsep yang keluar dari otak saya mengenai difinisi sahabat, yaitu "sahabat gak papa hanya satu arah datangnya (means hanya dari sisi gw aja yang nganggep mereka sahabat, tapi belum tentu mereka anggep gw sahabat mereka karena satu dan lain hal), tapi yang penting gw selalu ngelakuin hal yang terbaik buat mereka, dan mereka seneng. Maka gw pun insyaAllah akan seneng melihat mereka seneng. Dan satu lagi, gw harus bisa memastikan kadar sayang gw sama sahabat sahabat gw gak akan pernah berkurang, sekalipun masalah gak kelar kelar datengnya. Semua bisa di selesaikan." Itu deh definisi sahabat menurut gw, satu arah gak papa, yang penting tulus ikhlas :).

Sekian curhatan kali ini ya bloggers, semoga kalau yang baca 'diary' saya ini memiliki kesamaan cerita hidup dalam memaknai sahabat, 'diary' ini bisa menginspirasi kalian.

Assalamualaikum

"sometimes your bestfriend, your the biggest enemy in your life. even that things comes up, keep show the best part of you" - anonymous.