Ya...apa kabar temanku (read: blog). Sudah terlampau aku tak menorehkan kisah ku di dirimu, kali ini aku ingin bercerita tentang sedihku namun di dalamnya ku sematkan rasa syukurku kepada Allah SWT.
Hari ini, ya sore ini adalah buka puasa pertama ku dengan keluarga. Seperti puasa tahun kemarin, sebelum berbuka suasana rumah di warnai percekcokan kaka iparku dengan papaku. Sungguh pemandangan yang tidak mengenakan ini selalu mengihiasi hidupku selama di rumah. Mungkin alasan ini juga yang membuatku sungguh tidak betah berlama-lama bersama keluarga, penat rasanya. Aku rasa ketika canda tawa yang di sebarkan dalam beberapa waktu hanya sekedar kamuflase sementara, namun pada akhirnya semua keharmonisan itu akan kandas di gerus waktu. Sekejap aku langsung berfikir dan istigfar bukan main kepada Allah melihat hal ini. Sungguh ku merasa miris, aku merasakan kasih seorang mama hanya seumur 11 tahun. Selebihnya 8 tahun aku hidup selalu dalam rumah yang berwarnakan cekcok tak henti, aku iri melihat temanku yang memiliki keluarga yang tidak sepertiku, aku iri melihat teman ku yang bisa melancong ke Jakarta dengan segudang doa, harapan dan dukungan di tangan mereka dalam mengejar mimpi. Sedangkan aku?, aku merasa doa bermunculan bukan dari keluarga, tapi dari kalangan sahabatku, harapan dan dukungan bukan datangnya dari keluargaku, tapi datangnya lagi lagi dari sahabatku yang mencintaiku, bahkan aku sendiri adalah orang yang tidak ingin berlama lama di rumah, sedangkan temanku selalu ingin pulang ke rumah ketika liburan. Aku menyibukkan diriku di luar rumah dengan segudang kegiatan yang aku rangkai sedemikian rupa sehingga ketika aku pulang, aku akan mendapati keluargaku sudah tidur nyenyak. Aku rapuh sesungguhnya dan aku rasanya ingin berteriak melihat semua ini tiada ujungnya, tapi di lain sisi aku bersyukur kepada Allah SWT karena aku terbentuk menjadi anak yang kekurangan kasih sayang, anak yang tidak bisa tersenyum di rumah, namun aku menjadi anak yang mampu mengukir prestasi dan mengejar sebagian kecil mimpiku di luar rumah. Aku hanya meminta kepada Allah, jika memang jalan ini Ia ciptakan untuk menguatkan diriku, maka aku memohon kepadaNya untuk selalu menguatkan ku hingga akhirnya seluruh mimpiku terjawan sudah. Namun jika Ia menciptakan jalan ini untuk melihat skor kesabaranku, maka aku meminta maka hadapkanlah aku langsung ke level Ujian Akhir Nya, sehingga aku bisa tenang meniti masa depan dan mimpiku dengan sesuai yang apa ku inginkan.
Itu saja yang ingin aku bagi, entah hanya kepada lagu dan tulisannya aku bisa berbagi. Terimakasih ya Allah atas segalanya hingga saat ini.