Friday, May 31, 2013

Sudah H-17 saya dan Paramadina Choir berangkat ke Vietnam untuk mengahrumkan nama Universitas, nama Negara, nama team, nama ku pribadi, sekaligus merealisasikan mimpi ku, mimpi kita bersama. Sesak rasanya menghitung hari yang semakin dekat, bukan sesak kekesalan, namun sesak keharuan yang entah menjadi apa di dalam hati ini. Setiap habis berdoa setelah latihan dengan team, dada ini begitu dingin di lewati angin bayang-bayang 5 hari bersama team, rasanya kalau tidak ada orang entah berapa air mata yang tak sengaja keluar dari kelopak mata ini. Tak kusangka, 2 tahun aku di Paramadina Choir, sampai di titik ini juga, yaitu titik awal dari tujuanku masuk Paduan Suara, yakni saya berangan bisa bersama dengan team ke luar negeri untuk mengikuti kompetisi, begitu Baik Allah SWT atas apa yang di inginkan umatNya.

Setiap ruas jalan yang ku lewati, memiliki kenangan tersendiri di benak ini, kenangan dimana malam-malam kami haru mengamen mengais rupiah-rupiah penopang keberangkatan kami, ruas jalan yang selalu menjadi bahan gumaman ku ketika kaki ku ini begitu letih untuk mengikuti iringan derap kaki teman-teman, ruas jalan yang selalu ku duduki ketika kami semua letih bernyanyi, dan ruas jalan yang selalu kami keluarkan kata-kata andalan "selamat malam bapak-bapak, kakak-kakak, teman-teman, kami dari Paramadina Choir..." untuk sekedar membuat mereka menoleh dan memperhatikan lantunan nada yang kami lontarkan dari dalam hati. Sungguh ku ingin meneteskan air mata, tak kusangka aku dan team sudah sejauh ini melangkah, sudah sebesar ini angan-angan yang akan kita realisasikan. Sungguh kesabaran, dan ketekunan dalam menjalani skenarioNya itu teramat ampuh dalam memegang mimpi menjadi nyata.

Terimakasih ya Allah, terimakasih teman-teman, begitu banyak warna yang kalian torehkan dalam kehidupanku ini yang awalnya ku sangka hidupku berada dalam level stagnancy yang akut, ternyata aku menemukan kalian, aku menemukan UKM yang membuatku happy (walaupun tak jarang UKM ini juga buat pening dan gondok hahaha), ada masanya nanti ketika umurku sudah jauh bertambah, aku tidak dapat bertemu lagi dengan kalian karena rutinitas yang begitu deras membunuh waktuku, moment ini lah dan partitur yang begitu tebal itulah yang akan selalu ada di sisiku dan terus membuka setiap inci kenangan perjalanan kita bersama-sama, ya ini tolak ukur pertama kita. Sukses untuk kita semua Paramadina Choir.

Monday, May 27, 2013

Siapa Itu Sahabat, Sahabat Itu Apa, Apa Itu Sahabat?

Sampai detik ini, masih mencari arti yang hakiki dari kata SAHABAT. Ya kata itu yang masih belum ku pahami dari berbagai macam kata-kata di dunia dan di kehidupanku. Ketika aku merasa sudah menemukan sahabat, justru orang yang ku anggap sahabat itu tidak menganggapku demikian, aku hanya di anggap sebagai teman saja. Di saat aku merasa teman dekat ku adalah mereka, justru mereka yang ada ketika hati ini mulai retak sana sini oleh kerasnya palu kehidupan. Kini orang yang aku anggap sahabat, terkesan seperti menjauh dan tidak menggambarkan sahabat seperti layaknya sahabat. Aku bingung, aku sedih, aku kesal, aku terasingkan. Bukan karena output dari tingkahnya (baca : menjauhi saya), tapi saya bingung, sedih, kesal dan terasingkan karena saya tiap hari harus bertemu dengan dia di lingkup yang sama pula, sedangkan saya sendiri merasa dia tidak menganggap diri saya ini ada atau sahabatnya. Sepertinya perjalanan saya mencari arti kata SAHABAT akan berujung seperti saya di SMA, hanya bersahabat dengan buku, komputer, tulisan, dan tentunya gadget yang setiap hari tidak pernah beranjak dari sisi saya ketika saya menangis sekali pun.

Kadang dalam benak ingin berteriak "kalian sungguh enak, ketika kalian pulang ke rumah kelak, kalian akan di rindukan, aku?. Aku pulang tidak ada yang mengapresiasiku sama sekali. Bertanya 'Kenapa?' saja kesannya enggan. Aku terasingkan di sana sini, tidak dengan kalian!!." Tapi aku sadar, untuk apa aku berteriak, untuk apa aku membagi, aku tau bahwa setiap insan di Dunia ini sebagian besar hanya menjadi Good Listener saja, jadi daripada saya hanya menadapat julukan "anak manja" lebih baik biar saya, hati saya, Allah SWT, dan "teman-teman" setia saya yang mengetahui kapan saya tertawa lepas, kapan saya tersenyum palsu untuk menghindari kerapuhanku, dan kapan aku benar-benar menangis.

hidup ini akan selalu sendiri
sekalipun ribuan sahabat mengelilingimu
sejatinya kamu adalah
INSAN YANG SENDIRI KELAK

Tuesday, May 14, 2013

Satu Kata

Tak jarang, dahulu ku sering merasa bahwa dia adalah wanita yang sungguh bawel di dalam urusan pergaulanku. Ya, dia adalah ibuku
Tak jarang, dahulu ku sering merasa bahwa dia adalah wanita yang terlalu over proteksi terhadap hidupku. Ya, dia adalah ibuku
Tak jarang, dahulu ku sering merasa lelah selalu di ingatkan dalam segala hal olehnya. Ya, dia ibuku
Tak jarang, dahulu ku sering geram ketika ia begitu terlalu sering menyuruhku ini itu. Ya, dia ibuku

Sekarang, ku sadari satu hal, bahwa,

Ia begitu  bawel dalam pergaulanku, karena ia adalah ibu yang melahirkanku, wanita satu-satu nya yang tak ingin melihatku terjerembab di dalam lubang keputus asaan. Karena hanya ibu ku satu-satu nya orang yang akan selalu attention atas perkembanganku di kala semua di sekelilingku tidak mau tau tentang perkembanganku
Ia selalu over protektif kepada hidupku, karena hanya dia wanita satu-satunya yang ingin tau segala perkembangan kehidupanku dan menghalangiku terjebak jalan yang salah, ketika sekelilingku tidak perduli apakah jalan yang ku ambil itu adalah jalan benar ataukah jalan yang salah
Ia selalu mengingatkan ku dalam setiap langkah hidupku, karena hanya dia wanita satu-satunya di dalam hidupku yang dengan ikhlas menjadi penunjuk arah kehidupanku, ketika di sekelilingku bahkan tidak akan mencariku ketika aku tersesat dalam luasnya hidup
Ia selalu menyuruhku ini itu, karena dia satu-satunya wanita di dalam hidupku yang ingin melihatku berkembang pesat dalam hidup, ketika di sekelilingku tidak sudi memperhatikan apakah aku bisa berkembang di dalam hidup atau tidak

Kini teramat sangat ku yakini bahwa kamu sudah tenang di Rumah Tuhan wahai mama ku tersayang, terimakasih banyak ku ucapkan kepada Allah SWT telah mengkaruniai sesosok mama yang begitu luar biasa di dalam hidupku seperti dirimu. Maafkan aku jika selama ini aku begitu banyak salah kepada mu dan belum sempat membuatmu bangga, tapi sekarang aku dalam proses ingin membuatmu tersenyum disana, sekalipun kita terpisah begitu jauh dari jarak dan waktu.

Terimakasih MAMA KU.

Saturday, May 11, 2013

Ku Bersyukur

Hujan kembali membasahi tanah Jakarta, dingin serentak menyeruak ke dalam pori-pori kulit. Sejenak ku mainkan lagu Sherina - Ku Bahagia, ku resapi setiap baris lirik nya, ku amati makna itu semua terdalam. Ku mencoba merasuki seluruh relung fikiran ku dengan lirik-lirik itu, akhirnya ku temukan satu kata yang terpatri di hatiku, yaitu KU BERSYUKUR. Ya!, ku bersyukur apa yang aku miliki sekarang, apa yang bisa ku hirup sekarang, apa yang bisa ku makan sekarang, apa yang bisa ku perjuangkan sekarang, dan ku bersyukur aku memiliki sahabat seperti mereka. Mereka mengajarkan ku untuk tegar, untuk kerja keras, untuk sabar dan mereka juga mengajarkanku untuk bersyukur. Ku bersyukur memiliki sahabat seperti mereka. Terimakasih ya Tuhanku.

Maybe you can find a statement about "ex girlfriend"
But you can not find out the statement about
EX BESTFRIEND

Friday, May 10, 2013

Ada Rasa Itu Kembali

Senyum, ya senyum adalah senjata ampuhku menutupi kerapuhan ku. Ku selalu berhasil membuat sekitarku berfikir "yoko adalah anak yang periang," sungguh ku berhasil. Tapi kala aku sendiri, kala kepala ini sudah tidak sanggup menopang segala beban, ketika bahu ini begitu berat untuk ku gerakkan, ketika kaki ini begitu linu untuk ku seret, dan ketika hati ini sudah terlampau keras untuk mengeluarkan isi nya. Rasa kangen mama yang begitu menderu-deru begitu keras berteriak dari dalam sanubari, ingin rasanya saat itu juga aku berlari ke mama, memeluknya begitu erat, berkeluh kesah dengannya perihal apa yang ku raih dalam perjalanan hidupku. Tapi......ITU TIDAK BISA!!, ya itu sungguh tak mungkin. Beliau sudah begitu tenang di Rumah Tuhan, beliau sudah habis perannya dalam film Tuhan, beliau sudah pensiun dari adegannya. Ketika ku tertegun dan terhentak dengan pernyataan itu di otakku, seketika aku diam, diam membisu dalam pilu sanubari ku. Setetes, dua tetes, hingga tak terhitung beberapa tetes air mata ini membasahi mata dan pipi ku. Ku hanya bisa memutar lagu-lagu yang bertemakan rasa rindu dan sayang kepada mama, ya hanya itu yang bisa ku lakukan ketika aku merasa tak kuat menghadapi dunia ini dan ingin bertemu dengan mama, di balik tangis ku, gejolak hati ini bermain begitu gemuruh di dalam dada, rentetan kekesalan, rentetan rindu ku kepada mama, dan rentetan pilu yang terus menusuk sudah tidak dapat lagi ku atur sebagaimana mestinya mereka di tempatkan di ruang hati ku. Ketika semua itu menjadi satu, hanya satu pikiran di benakku "Mama, aku disini, aku masih membutuhkan peluk dan kasih mu. Aku haus akan kasih sayang seorang ibu kepada ku." Tapi ketika ku merasa sudah cukup tenang dan legowo dalam menghadapi semua kemelut ku, aku memutuskan untuk kembali menorehkan senyum ku di wajahku, ku persembahkan senyum kepada dunia, keluarga, sahabat, dan alam. Ku proyeksikan diriku sedemikian rupa, untuk tak terlihat rapuh dan hancur lebur ketika aku merasa letih menghadapi dunia.

Wednesday, May 8, 2013

Titik Jenuh

Sudah H-1 Bulan Team Paduan Suara Universitas ku akan menjalankan misi budaya membawa nama harum Indonesia di kancah Internasional. Semakin kesini, semakin kurasa jenuh rasanya. Semua yang masuk ke dalam otakku serasa membuatku jengah, sekalipun bisa saja itu hanya respon wajar dari beberapa orang. Jengah dan merasa "useless as a member" meranda hebatnya di dalam sanubari, entah aku harus berbuat apa. Bingung, ya aku bingung. Aku merasa aku memiliki sahabat yang selalu di sisiku, tapi entah mengapa, tidak ada niatan dari sanubari ku untuk membagi apa yang ku benam di dalam otakku, antara aku merasa tidak ingin membebankan mereka, atau memang aku merasa belum saatnya aku membagi semua dengan mereka. Aku semakin sesak menerima segala masukan ke dalam hati dan fikiran yang mencekik setiap saat tiada henti, tidak ada teman untuk berbagi dengan sesama. Mungkin dari posisi ku di team tidak begitu penting ataupun tinggi layaknya ketua paduan suara ataupun ketua kontingen, tapi ku hanya ingin mereka tau, bahwa aku disini sebenarnya membenam apa yang tidak aku suka dari respon beberapa orang yang menurutku tidak pas untuk di keluarkan di timing seperti ini.

Mungkin sudah tabiatku untuk lebih nyaman "bermain" sendiri tanpa "mengoper" nya, aku hanya berpasrah kepada Allah, semoga Dia menguatkan tekad, langkahku, dan tidak pernah mengeringkan peluh ku dalam setiap inci langkah pencapaianku. Aku butuh hati ku di kuatkan dan di kosongkan dari semua kepenatan ini, sejujurnya aku LETIH.