Saturday, April 27, 2013
proses
Sunday, April 14, 2013
Lirih ku
Kikisan Kepercayaan
Hola :D, kembali ku ingin bercerita di blog ku teman setia sepanjang masa ku ini :D. Hari terus semakin terus bergulir, semain cepat waktu memakan setiap detik nafas ku. Di perjalanan itu ku rasakan dua hal besar yang berkecamuk di dada ku, perasaan bangga karena keberangkatan ku dengan team paduan suara semakin dekat untuk membanggakan kampus ku dan nama Indonesia di kancah internasional. Namun di sisi bangga itu ku rasa ada sesuatu yang mengganggu dan mengikis kepercayaan ku kepada orang orang yang ku anggap saudara ku sendiri di paduan suara ini, yakni sahabat sahabatku. Semakin terlihat jelas beda "menu" persembahan yang mereka suguhkan kepada ku, pandangan ku semakin kuat, ketika ku tahu bahwa banyak orang orang di sekitarku yang merasakan itu muncul di sikap sikap sahabatku. Semakin habis ku rasa kepercayaan ku kepada mereka. Tapi sudah lah, ada orang yag berbicara bahwa "terkadang kita tidak perlu memikirkan hal yang membuat kita sakit hati, semua itu BULLSHIT." Apapun yang mereka proyeksikan di hadapan ku, aku akan tetap menyuguhkan yang terbaik bagi mereka. Mari membangun semangat dan jaring jaring mimpiku untuk masa depan.
Saturday, April 13, 2013
Makna Terdalam
Selamat sore Dream Catcher, sudah lama jemari ini tidak "menari" menorehkan secuil cerita di blog ini. Kali ini singkat saja ku ingin menceritakan apa yang kurasakan sekarang. Perjalanan ku dengan team paduan suara ku menuju international competition tinggal menghitung bulan, tapi semakin kesini semakin kurasa sesak di dada. Tanggung jawab ku sebagai dana usaha bagian sponsorship mencekik habis nafas ku, dan entah berapa lirih yang selalu keluar dari dalam sanubari hati yang terdalam. Kini di tambah lagi perasaan "terasingkan" dari sahabat-sahabatku, entah semacam perasaan sentimentil atau memang nyatanya seperti itu, aku merasa bahwa ada satu tembok yang muncul dari mereka terhadap diriku. Mungkin karena status mahasiswa yang melekat di diri kita berbeda jauh. Sejujurnya aku tidak ingin ada suatu "gep" semacam itu di antara kita, karena aku sudah menganggap mereka semua keluarga kedua ku, namun nyatanya "gep" tersebut semakin nyata terlihat. Hal itu membuatku tercekik dari hari ke hari, membuatku jengah dan ingin berteriak "bisakah kalian memahami ku seperti kalian memahami sesama kalian?." Tapi apa daya, itu hanya akan terpendam di hati ku yang terdalam, tanpa aku ingin memberitahu mereka.
Tapi di balik itu semua, dapat ku tarik pelajaran, bahwa aku harus bersifat professional ketika aku berorganisasi, kesampingkan rasa itu dan teruslah produktif. Karena ku yakini sabarku, lirihku, pedihku yang ku bungkam dalam hati pasti di lihat oleh Allah dan Dia pasti akan memberikan "hadiah" istimewa kepada ku di waktu yang tepat sesuai suratan yang Ia takdirkan. Selamat sore para dream catcher
Sunday, March 31, 2013
The mean of processes
Minggu, 31 Maret 2013
Selamat malam penjaring mimpi di jagat raya, malam ini aku kembali menorehkan secarik tulisan ku. Malam ini aku sungguh mendapat sebuah kesamaan pandangan dengan sahabatku, yaitu THE MEAN OF PROCESSES. Aku kini sudah berkembang dan tumbuh menjadi remaja yang sebentar lagi memasuki usia 20 tahun (tepat di Agustus tahun ini). 19 tahun aku hidup dengan kecintaan ku dan hobby ku dengan musik dan lagu. 19tahun aku merangkak membuktikan kepada keluarga ku bahwa hobby ku ini bukan sekedar hobby yang sekali lewat, dan sekarang?, insyaAllah aku akan mendekati gerbang pembuktianku, bahwa hobby ku (bernyanyi) dapat membawa ku sampai menyebrang ke Vietnam (di bulan Juni nanti) untuk melantunkan nada-nada indah bersama team paduan suara kampus ku, sekaligus membawa nama baik Indonesia di mata dunia. Inilah aku Widiyoko Indrarto, bocah yang dulunya pemalu, telah bermetamorfosis menjadi sosok yang percaya diri, di percaya menjadi divisi dana usaha sponsorship untuk team paduan suara ku (posisi yang menurut ku amat penting), dan aku kini mempelajari bahwa mimpi ku memang di takdirkan untuk melekat di dalam kehidupan nyata ku dan semua itu aku percayai akan indah pada waktuNya asalkan aku mengerti, sabar & menghargai segala PROSES menuju ke mimpi ku itu yang di suguhkan oleh Allah. Terimakasih Allah atas segala skenarioMu atas mimpi ku. Akhirnya sebentar lagi aku akan merasakan pergi keluar negeri bukan karena uang, bukan karena fasilitas, tapi karena hobby dan kecintaan ku akan musik yang di anggap sebelah mata oleh sekitarku. Alhamdulillah dan syukur ku panjatkan kepadaMu.
Kutipan yang sama dengan kata hati ku yang terlontar dari sahabat ku malam ini adalah
"Gua menganggap ini bukan kompetisi, bukan keluar negerinya, bukan menangnya, tapi semua ini prosesnya." - Muhammad Fadly, 20 tahun, asal Makassar.
Terimakasih ya Allah atas karuniaMu melalui sahabat sahabat luar biasa seperti mereka.
Friday, March 29, 2013
Defying Gravity
Perjalanan ku untuk mama
Selasa, 26 Maret 2013
Selamat malam semua, kali ini saya hanya ingin sedikit curhat atas kerinduan saya dengan almarhumah mama saya. 8 tahun sudah mama pergi ke haribaanNya mendahului saya dan kaka kaka saya serta papa saya, rindu masih terasa pilu di hati, sesak moment itu juga masih kuat di ingatan. Kembali ku melihat album album semasa kecil ku yang beruntung memiliki kenangan dokumentasi dengan mama (maklum mama gak terlalu suka di foto). Sekelebat langsung terbayang dalam benak "alasan apa yang mendasari aku masih bertahan hidup untuk berjalan mengarungi hidup?," "alasan apa yang mendasari aku harus tetap kokoh berdiri megais mimpi ku?," "alasan apa aku harus mejelma jadi sosok anak manja kesayangan mama, menjadi anak yang kuat dalam menghadapi masalah?." Rentetan pertanyaan itu ludes telibas rentetan foto yang ku temukan. Jalannya hanya satu "aku di sini, dengan segala perubahan yang ku miliki, hanya bermuara ke satu arah, yaitu MAMA."
Dulu ku ingat, betapa mama sungguh menyayangi ku dengan sepenuh hati, beliau selalu menuruti apapun yang aku minta tanpa bilang "tidak" hanya jawaban halus yang terlontar darinya ketika dia berusaha menolak permintaan ku "nanti ya dek, kalau mama sudah punya uang, adek bisa beli itu. Sekarang adek belum butuh." Alasan itu tetap tidak ampuh bagi ambisi ku untuk mendapatkannya, alhasil mama membiarkan aku merengek sambil bergumam "nanti juga capek sendiri." Betapa itu semua sekarang menjadi kenangan lucu yang melekat dalam otak. Betapa lucu aku mengingat dulu aku anak manja, egois, dan tidak bisa menerima permintaan ku di tolak mama.
Malam ini, semua itu kembali merasuk ke dalam memori ku. Aku mem-flashback sangat jauh atas hidup ku yang sekarang. Sungguh aku rindu aroma masakan sederhana mama, yaitu mie goreng dengan telur orak arik di hari minggu, masakan itu yang bisa membangunkan ku dalam lelapnya tidur. Rindunya diriku atas sosok mama yang selalu menemani ku menonton tv dan bertanya "gimana sekolahnya tadi dek?," rindunya aku dengan rutinitas keluarga ku membuat kue menjelang hari raya, rindunya aku dengan sosok mama ku yang sibuk mempersiapkan hari ulang tahun ku yang ke-6, rindunya aku dengan sosok mama yang selalu bilang "ini nih anak bontot kesayangan mama," rindunya aku dengan segala atribut mama yang melekat kuat di benak ku. Kini?, aku hanya bisa berjuang di sini, memperjuangkan mimpi ku, untuk mama terkasih yang sudah 'tidur' sembari memperhatikan ku.
Sekarang aku sudah bukan indra kecil kesayangan mama seperti dulu lagi, aku sudah survive dengan tenaga dan asa ku dalam meraih cita-cita ku, kini aku sudah mejelma jadi indra berusia 19tahun yang akan berjuang mengikuti kompetisi paduan suara tingkat internasional bersama team choir kampus ku, dan semua ini ku sadari bahwa kepergian mama membuat ku selalu ingin melakukan hal yang membanggakan di dedikasikan untuknya. Dengan kepergian mama, aku sadari Allah dan alam ingin aku belajar menjadi anak bontot yang kuat dan manja akan kasih sayang mama. Di sini indra berjuang untuk mama, melangkah untuk mama, apapun hasilnya aku hanya berharap mama bisa bangga dengan torehan 'tinta' dalam 'kertas' hidup ku.
Selamat beristirahat mama, aku di sini untuk mama. Pantau terus anak mu ini berkembang, insyaAllah aku bisa membanggakan mama kelak. I miss you mom.

