Monday, August 11, 2014

Tak Lagi Muda

Kini, usiaku akan beranjak  21 tahuh. 21 Tahun aku hidup menjalani lakon yang diberikan Allah SWT kepadaku, semua nikmat, semua sedih selalu ku syukuri dalam hati, selalu ku balas dengan senyuman. Walau rasanya bibir ini lelah terus tersenyum ketika begitu berat beban dalam hati, walau rasanya raga ini remuk terkikis waktu yang seakan ingin membunuhku perlahan. Kini, aku dan kedua kaka ku benar-benar menjadi pejuang sejati di dalam rumah mungil dimana kami bertiga tumbuh dewasa sampai detik ini. Mulai dari dulu masih ada suara canda tawa Mama di rumah sepulang kantor dan di hari libur, hingga suara itu sudah tak lagi terdengar tertutup oleh angin waktu. Kini, kami harus kembali menghadapi kenyataan, bahwa nenek kami tercinta sudah tak lagi muda, sudah tak lagi sehat, sudah tak lagi dapat berjalan, sudah tak lagi dapat menemani kami walau hanya sekedar duduk bersama menonton tv. Beliau, sudah tak sanggup mengangkat badannya dari tempat tidur, harus kami bantu mengangkatnya, mengeluarkannya dari kamar tidur menuju ruang tv belakang, kami pula yang harus menggantikannya popok ketika beliau buang air, kami yang membilasnya di atas kursi roda, dan memang beliau tak lagi muda seperti sedia kala. Hanya tinggal kami bertiga yang dengan setia memastikan dia selalu dalam keadaan senang. Walau kami hanya seorang cucu, yang kasih sayang kami kepadanya tak akan pernah cukup membalas budi nya sedari kami bertiga kecil-kecil dulu.

Melihat badannya yang semakin mengurus, ketidak berdayaan raga nya untuk sekedar berjalan atau menggerakan kaki, menyadarkan kami bahwa begitu cepat waktu membunuh momentum indah dulu. Masih lekat di benakku dulu, ketika aku merengek di tinggal Mama pergi ke kantor, Nenek lah yang mengajakku keluar membelikan side dishes Ice Cream memastikanku berhenti merengek, Nenek lah yang selalu mau menenangkanku ketika Bapak ku begitu kasar membentak karena aku malas belajar ataupun lamban menerima metode mengajarnya. Hanya Nenek, yang selalu memastikan aku dan kaka kaka ku untuk selalu dalam kondisi 'makmur' ketika Mama tak ada di sisi karena dinas. Kini, sosok itu sudah tak bisa lagi melakukan semuanya kepada kami, Nenek hanya bisa menanyakan kami sudah makan atau belum dari atas tempat tidurnya. Nenek hanya bisa mendoakan kami dari atas tempat tidurnya ketika kami pamit untuk beraktifitas di luar.

Sekarang saat nya kami bertiga menjaga Nenek di usianya yang semakin senja terkikis usia, hanya mengharap berkah dari Nya, kami tak berharap hal yang begitu kompleks atas jerih payah mengurus Nenek. Kami hanya ingin Nenek terus ada di rumah mungil kami menghabiskan waktu. Khususnya aku, ingin sekali Oktober 2015, Nenek masih ada di rumah, melihatku membawa pulang baju toga kebanggaanku dan ijazahku ke hadapannya. Beliau selalu bertanya "kamu kapan lulus Dek?", seolah isyarat bagiku bahwa Ia menantikanku untuk wisuda. Kami ikhlas ya Allah mengurus Nenek, kami ikhlas meluangkan waktu untuknya, membuatkan minum untuknya, kami Ikhlas Lillahi Ta'ala. Kami tak meminta Om kandung kami (Notabene anak laki-laki satu-satunya dari Nenek) untuk mengurus Nenek. Sungguh aku pribadi bahkan tak rela Om ku mengurus Nenek ku, aku sungguh tak rela sisa hidupnya di habiskan oleh anaknya yang membenci Nenek ku begitu dalam. Entah dimana letak logika dan hati Om ku, entah ku tak mengerti. Kami akan merawat dan menjaga Nenek semaksimal kami, karena kami yakin Engkau sudah menyuratkanny begitu.

Aku hanya berharap dan berdoa, jika Nenek kami Engkau takdirkan sembuh, maka angkatlah penyakitnya. Namun, jika Engkau sudah ingin memanggilnya sebelum aku memamerkan toga ku di hadapan Nenek, aku ikhlas. Sejauh itu yang terbaik beliau. Aku hanya ingin yang terbaik untuk beliau dan hamba memohon mudahkanlah jalan Nenekku. Sekalipun Nenek harus sudah tiada sebelum aku wisuda, hamba yakin Mama dan Nenek akan bangga melihat pencapaian hidupku. Karena insyaAllah hidupku tidak ku bentuk untuk memalukan mereka.

Jaga lah Nenek ku dan keluarga kecilku, terimakasih banyak ya Allah Engkau begitu banyak memberikan aku warna hidup dan menguatkan aku sampai detik ini.

Saturday, January 25, 2014

Dream Just Like A Purpose

Halo blog tercinta, kembali saya ingin menorehkan cerita sederhana dalam hidup saya ke dalam blog ini. Kali ini saya ingin menyampaikan pandangan saya tentang "Dream is Just Like A Purpose". Ya banyak yang merangkai mimpi mereka begitu mulai, besar (dalam artian berdampak massive kepada Dunia), bahkan ada yang merangkai dengan begitu mulia. Namun bagi saya, mimpi yang ada dalam hidup saya cukup memiliki 3 komponen yaitu, happiness, smile, & independent. Kenapa hanya tiga hal itu?, dan mungkin mimpi saya akan terlihat tidak se-gemilang mimpi orang kebanyakan. Saya menerapkan itu karena pertimbangan oleh aspek internal dan internal. Jika ketika pertama saya membuat kata "mimpi" dalam hidup,maka saya harus memulai nya dengan prinsip happiness, karena ketika saya menjalaninya dengan kesenangan maka output yang dikeluarkan pun akan tulus dan saya akan selalu optimis menjalani itu sampai hasil final. Lalu ketika saya sudah berhasil memulai first step, maka saya pun memulai prinsip smile. Kenapa smile?, karena ketika saya sudah tulus menjalani langkah mimpi saya & saya berhasil membuat orang terdekat (minimal sahabat & keluarga) merasa senang bahkan tertular semangat positif saya, maka doa dan pengharapan tulus mereka pun akan terlontar layaknya dzikir kepadaNya. Tiada henti, dan selalu menyentuh relung hati saya ketika mungkin saja ada titik nadir dalam proses mengejar mimpi yang saya rasakan. Dan ketika dua prinsip itu sudah 'berhasil' saya jalankan, maka yang terakhir yang perlu saya terapkan adalah independent. Independent saya pilih karena saya menjadikan mimpi saya bukan sebagai ajang pamer, ajang penunjuk eksistensi 'kekuatan' saya yang secara nyata sesungguhnya tak seberapa, namun lebih kepada tujuan mimpi saya adalah menjadikan diri ini lebih mandiri menjalani nada hidup & menghargai setiap proses mencari yang diberikan Tuhan & alam kepada saya. Sehingga ketika mimpi saya pun terwujud, saya lebih senang menjadikannya bukan sebagai achievement yang harus di pampang, namun lebih menitik beratkan kepada sharing session kepada sesama. Dengan harapan, bahwa orang sekitar juga setidaknya mau mencoba menembus batas mereka yang selama ini mencengkram mereka. Dan terakhir, saya menganggap tujuan/target adalah sebagian dari kata luas dari 'mimpi'. Jadi apapun tujuan/target hidup yang ada dalam diri saya, itulah mimpi-mimpi kecil saya. Dan pengalaman saya kemarin ke Vietnam bersama Choir, berhasil magang (walau sebentar) di tempat Strategic Branding Consultant MakkiMakki merupakan mimpi-mimpi saya yang saya yakin bisa menentukan my path of life in the future. Karena semuanya itu saya jalani sesuai dengan minat dan passion saya di dalamnya.

Well, itu saja yang bisa saya share. Semoga apa yang saya tulis bisa bermanfaat dan kalian bisa mengerti my point of view. Selamat menjalani hidupmu teman.